Sarikata Admin on November 16th, 2007
PAGI ini terasa sangat dingin sekali. Namun, tak menyurutkan niatku untuk mengambil wudhu, walau sedingin apa pun air di bak mandi itu. Aku tak peduli. Sebab aku telah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Setelah melakukan Shalat Subuh dan membaca selembar ayat suci Alquran. Aku lalu, membuka jendela kamar. Saat kulihat jam di dinding kamarku waktu baru pukul 05.10 WIB pagi.
Lalu ku ambil buku agendaku, aku mulai merenung dan kutulis apa yang menurutku baik untuk kutulis.
Saat ini pikiranku melayang merenung soal dunia yang tak kunjung usai. Dari persoalan perut, etos kerja, konflik sosial, kesenjangan sosial, politik, hukum, kejahatan berdasi, dan seterusnya sampai pada persoalan visi, misi, paradigma dan ideologi bangsa ini. Bagiku, semua berbau keberpihakan. Namun, ada hal yang menurutku sangat penting untuk digugah, Mengapa rakyat kita ini pada konflik??.
Capek berpikir itulah yang kemudian aku rasakan. Lalu, kuberanjak menuju dapur untuk membuat teh panas, dan kembali ke kamar. Kuminum teh seteguk, dan pikiranku mulai lancar kembali. Begitulah, selanjutnya, kala aku sampai pada kejenuhan berpikir, kuteguk teh kembali. Entahlah, dinamisasi hidup yang hendak kubentuk berubah menjadi proses ketidakungulan yang menyebabkan aku mengurungkan niat kembali pada nilai nilai Qurâani dalam arti totalitas.
Hal ini disebabkan, aku hidup di alam nyata. Penuh persaingan, penuh kedengkian, penuh ketidakadilan, penuh kecurangan dan seterusnya. Malas rasanya menghujat semua itu. Mungkin tak berarti sama sekali. Bagiku ataupun bagi rakyat kecil yang kuimpikan mengalami pemerataan ekonomi.
Akhirnya, aku sampai pada satu pertanyaan sederhana, tapi sangat membuat kepalaku pusing. Apakah stratifikasi sosial kehidupan ini tak bisa dihapuskan ?. Atau paling tidak tercapai pemerataan sosial ekonomi? Atau paling tidak terjamin kesejahteraan seluruh rakyat? Kalau sudah pertanyaan ini muncul, aku rasanya mau menangis. Bukan karena aku termasuk kalangan orang tak berada. Tapi lebih dari itu. Realitas umum yang kusaksikan. Aku tak tega, dan bahkan rasannya aku tak mau hidup lagi, menyaksikan realitas itu, baik lewat TV, radio, koran majalah dan realitas yang kualami sendiri. Pernah bermalam malam aku tak bisa tidur, memikirkan realitas bangsa yang terpuruk ini. Kadang aku pun bingung sendiri. Mengapa aku begini ?. Tapi itulah yang kurasakan. Aku haus kedamaian bersama.
Pernah kusaksikan tukang roti yang tertatih tatih mendaki tebing tinggi, di sebuah lorong jalan. Tubuhnya sudah tua renta dan badannya kurus tak terurus. Kusaksikan tukang baju jalanan, yang berjasa besar bagi kebersihan untuk menjaga motto kota ini,
Terbenak pula dalam pikiranku, para pengusaha, konglomerat, pemiliki modal, investor dan lain lainnya. Mereka memiliki jalur struktural ekonomi yang lebih matang dan mapan. Tentu mereka akan selamanya mapan,? pikirku bertambah gelisah. Karena logikanya, saat anak anak keturunannya yang melanjutkan usaha atau kerja mereka, dan kaum buruh, seperti para tukang tukang tadi, dilanjutkan oleh anak keturunan kaum buruh tersebut. Maka, selama itu pula, buruh tetap buruh dan majikan tetap majikan. Kalau begitu, langgeng dong. Kaya makin kaya dan miskin makin miskin. Begitu selanjutnya,? tegasku dalam hati.
Aku mendesah, Oh… betapa kejamnya, kapitalisme?, desahku walau kata itu mungkin sangat angker bagiku. Tapi, kata itulah yang akhirnya keluar dari mulutku, memahami realitas ini. Saat kukembalikan kepada diriku, aku berkeluh Entahlah… mau jadi apa aku nanti dalam kehidupan yang materialistik ini ??.
Gadai menggadaikan kekuasaan saat ini bukanlah hal asing lagi. Tawar menawar kedudukan laksana memperdagangkan daging sapi. Korban mengorbankan orang lain adalah fenomena nyata kondisi negeri ini. Di tingkat elit politik muncul berbagai kata kata ilmiah yang membingungkanku dan mungkin rakyat awam. Seperti kata kata tim suksesi, politik praktis, barganing position, koalisi rekonsiliasi, merger dan mungkin banyak lagi istilah istilah ilmiah lainnya. Yang bersifat kepentingan dan keberpihakan, tapi tak satu pun berpihak kepada rakyat. Padahal, kita semua berharap ketenangan, kesejahteraan dan terjamin keamanan. Tak lebih dari itu. Aku semakin gelisah.
Begitu banyaknya persoalan pagi ini, membuat aku laksana bukan berada di dalam kamar yang hanya ditemani setumpuk buku dan beberapa catatan kecil agendaku. Seolah aku berada ditengah tengah keseharian yang mungkin akan aku lalui sebentar lagi, saat lebih pukul 07.00 WIB. Seolah aku berada dalam forum forum diskusi kelompok kecil rutin, dimana aku dan teman temanku lakukan di kampus. Untuk merefleksi semua persoalan bangsa ini, walau terkadang tak terealisasi sama sekali. Tapi, kenyataan tetap kenyataan. Sebagai orang awam aku tak bermaksud mencela realitas ataupun mencari solusi atas sekelumit persoalan itu.
Karena mungkin jawabanku hanya sederhana. Ibdaâ Binafsika ? (Mulailah dari dirimu sendiri )â€? begitu seingatku perkataan baginda Nabi Besar Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan ini. Dari begitu luasnya persoalan yan aku pikirkan tadi, kini aku hanya kembali kepada diriku sendiri.
Perkataan baginda Nabi, telah memotivasiku dalam kehidupan ini untuk kumulai dengan penuh rasa optimisme. Dengan selalu bersikap jujur dan bijak dalam hidup. Mungkin benarlah kalau kita ingin menikmati hidup ini adalah dengan menjalaninya apa adanya dan mencontoh filosofinya bayi. Setelah aku selidiki tentang bayi, maka aku merasa dari bayi.
Aku melihat sewaktu Dolly berusia 6 bulan. Ia mulai berusaha untuk tengkurap. Namun gagal, tapi ia terus berusaha tanpa kenal lelah, sampai akhirnya berhasil tengkurap. Setelah berhasil tengkurap, kemudian, ia raih apa saja yang ada di sekitarnya dengan tengkurap. Sehingga, aku mesti repot menyingkirkan barang barang berharga agar tidak dibantingkannya.
Setelah dapat tengkurap, Dolly tidak cukup puas, ia mencoba untuk merangkak. Namun, selalu mengalami kegagalan, tapi akhirnya dengan ketekunan ia pun berhasil merangkak. Lalu ia pun berminat untuk berdiri. Di coba, dicoba dan dicobanya terus, sampai akhirnya ia bisa berdiri.
Dan serunya lagi, saat kuingat waktu dia mau belajar berjalan,
Sungguh seru perjuangan Dolly untuk dapat berjalan bahkan berlari lari. Dari tengkurap, merangkak, berdiri dan berjalan. Tapi semua dilalui dengan bahagia, senang dan penuh pesona kehidupan, tanpa putus asa apalagi sampai frustasi. Tentu, kalau bayi frustasi sudah dapatku bayangkan. Tak akan ada Bung Karno. Tak ada Bung Hatta. Tak ada Amien Rais. Tak ada Akbar Tanjung. Tak ada Megawati. Tak ada Gus Dur. Tak ada Cak Nur. Tak ada Cak Nun. Tak ada semuanya. Yang ada tentu bayi bayi stres, putus asa yang kerjanya hanya melamun ke
Lalu kemudian, aku mulai bertanya, bagaimana dengan kita? Maukah kita belajar dari bayi. Atau mungkin karena kita sudah dewasa tak pantas belajar dari bayi. Bayi tak tahu mana yang baik dan buruk baginya, tapi perjuangannya itulah yan patut kita ambil ibrohnya. Karena perjuangannya itulah akhirnya ia menjadi terbiasa, yang kemudian menjadi kebiasaan. Nah, kebiasaan inilah yang sering dikatakan bisa?.
Karena pada dasarnya bisa karena terbiasa. Ibarat kata pepatah
Dari berbagai pikiranku tadi, aku menyimpulkan bahwa ternyata kehidupan ini berasal dari individu individu. Sebagai individu masyarakat. Mampukah aku membangun pribadiku ?. Untuk menjadi pribadi agung yang diteladani dan yang mampu melahirkan sikap hidup positif. Aku tak tahu.???.
Lalu dengan cepat aku mulai mengakhiri torehan pena di agendaku, dengan satu catatan akhir yan penting bagiku. Ibda Binafsika . (Mulailah dari dirimu sendiri ). Catatan ini, akhirnya menutup tulisanku di agenda itu, sebagai motivasi baru hidupku, atau setidaknya untuk saat ini dan hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar